Berani Ambil Resiko? Pilih Reksadana! (2)

Masalah yang biasanya mengakibatkan timbal balik reksadana tidak sesuai dengan target adalah, “Tidak tahu tujuan,” ucap Taufik. Padahal tujuan inilah yang harus digarisbawahi jika ingin sukses berkecimpung di dunia reksadana.

Menurut Taufik, “kendaraan” yang dipakai nanti akan berbeda-beda disesuaikan dengan tujuan, antara investasi jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. “Jangan sampai salah kendaraan. Kalau mau jangka pendek tapi malah memilih kendaraan jangka panjang, akibatnya dia akan melaju terlalu kencang sehingga terlalu berisiko,” urai Taufik.

Taufik lalu menambahkan, biasanya orang sekadar menyimpan uang di reksadana sebagai “uang lebih” atau alternatif investasi lain selain deposito. Terlebih di tahun 2005, ketika investasi reksadana mengalami pertumbuhannya yang pesat, sehingga banyak orang yang tergiur mengikutinya.

“Dengan tujuan yang pasti, reksadana akan lebih menguntungkan,” ucap Taufik. Saat itu banyak sekali investor reksadana yang terkena rugi, karena salah membeli program yang dianjurkan oleh credit officer dari bank. Produk yang dianjurkan adalah reksadana pendapatan tetap dengan iming-iming tingkat pengembalian lebih baik dari deposito dan dana awal tidak berkurang.

Ternyata, di tahun-tahun itu, ekonomi tidak stabil, BBM naik dan harga-harga ikur naik. Sehingga orang-orang panik sehingga lebih banyak orang menjual reksadana daripada membeli, sehingga harga akan turun.

Oleh sebab itu, di sinilah perlunya seorang nasabah menjadi cerdas, jangan hanya ikut-ikutan arus terbanyak dalam memilih produk investasi, tapi juga harus menghitung risikonya. Manajer investasi pun berperan penting dalam keadaan genting seperti ini, “Bila manajer investasi banyak menarik dana sebelum jatuh tempo, otomatis obligasi lebih banyak yang dibeli daripada dijual,” cetusnya.

Dan ingat, tentukan tujuan, sebab ini nantinya akan memperlihatkan jangka waktu mana yang harus dipilih. Apakah jangka pendek yang berkisar kurang dari tiga tahun, jangka menengah yang berlangsung antara 3-5 tahun, atau jangka panjang yaitu lebih dari lima tahun. Dari sini, dapat diketahui reksadana macam apa yang pas untuk dipilih dan risiko yang akan dihadapai.

Memilah Produk Reksadana
Pada dasarnya yang menjadi pembeda untuk produk-produk ini adalah bentuk portfolio yang menjadi wadah berinvestasi. Ini menjadikan reksadana terbagi menjadi empat produk: reksadana saham, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana pasar uang.

“Reksadana saham melakukan sebagian besar investasi pada saham-saham, sementara reksadana pendapatan tetap ditempatkan sebagian besar dalam obligasi dengan tingkat pertumbuhan yang tetap, baik swasta atau pemerintah,” jelas Taufik.

Sementara reksadana campuran dapat didefinisikan sebagai reksadana yang mempunyai investasi pada saham dan pendapatan tetap yang tak bisa dikategorikan ke dalam produk reksadana lainnya, “Atau campuran antara reksadana pasar uang dengan reksadana saham,” tambah Taufik. Terakhir, reksadana pasar uang menginvestasikan dana ke dalam portfolio berbentuk utang dengan jatuh tempo kurang dari setahun.

Jika sudah menentukan tujuan dan jangka waktu berinvestasi dengan reksadana, saatnya untuk memutuskan produk mana yang akan dipilih. Reksadana saham memiliki risiko lebih besar dibandingkan reksadana pendapatan tetap, tapi mempunyai keuntungan yang lebih besar karena jangka waktunya lebih lama.

Oleh karenanya, jangan sampai memilih reksadana saham, jika hanya ingin ber-reksadana dalam jangka pendek, sebab keuntungannya tak akan terasa dan justru bisa membuat rugi. Jangka pendek cocok untuk reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang, “Sementara untuk jangka menengah, produk yang dipilih antara reksadana campuran,” tambahnya.

Bila diurutkan berdasarkan besar kecil risikonya, maka reksadana pasar uang memiliki risiko terkecil, disusul oleh reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. Demikian juga untuk keuntungannya, reksadana saham memegang urutan pertama, disusul oleh reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana pasar uang.

Sebagai gambaran, bagaimana berinvestasi dengan reksadana, bila Anda ingin membeli mobil seharga 60 juta dalam jangka waktu 3 tahun dengan menyetor Rp 100 ribu per bulan.

“Untuk menyiapkan uang muka sebanyak Rp 12 juta, perencana keuangan akan menghitung berapa target return-nya dan angka per bulan yang harus dikeluarkan. Angka tadi akan diinvestasikan dalam reksadana pendapatan tetap, karena jangka waktunya pendek. Jadi bukan semerta-merta menghitung Rp 12 juta dibagi 36 bulan,” terang Taufik. Melihat ini, bukan tidak mungkin, lho, Anda bisa menyiapkan dana sekolah anak hingga ke luar negeri dengan investasi reksadana.

Nah, tugas selanjutnya, jika Anda ingin mulai mengikuti reksadana, sungguh mudah caranya. Jadilah nasabah yang cerdas dengan menentukan tujuan, lalu pilih jangka waktu, pilih manajer investasi dan perencana keuangan yang handal, dan tentukan produk reksadana yang akan mengelola uang Anda. “Jika ingin punya banyak uang, lakukan investasi dengan reksadana. Jangan pernah menunggu kaya dulu, baru berinvestasi,” tandas Taufik.

Memilih Manajer Investasi
Manajer investasi ibaratnya penjaga gawang dari sukses tidaknya investasi reksadana yang dilakoni, oleh karenanya jangan sampai salah pilih. Agar tak salah pilih, perhatikan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi oleh manajer investasi:

• Memiliki reputasi dan track record yang baik, serta integritas tinggi.
• Menerapkan prinsip keterbukaan dengan investornya, termasuk mengenai perkembangan dunia reksadana.
• Mampu memberikan konsultasi dan solusi investasi yang bisa diandalkan dan dipercaya.

Reksadana Terproteksi
Kasus salah beli produk reksadana yang sempat disinggung pada artikel di atas, tentunya tak akan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Cara yang dipakai adalah dengan mengeluarkan reksadana terproteksi, “Tujuannya agar nasabah tidak panik sehingga menjual reksadananya,” kata Taufik.

Penawaran dari reksadana terproteksi adalah perlindungan terhadap dana awal yang disetorkan oleh investor dalam jangka waktu tertentu. “Dana awal yang disetorkan tidak akan berkurang, tapi nasabah harus menyimpan dana tadi selama sekian tahun,” papar Taufik. Dengan cara ini, manajer investasi tak akan menjual obligasi, walaupun kondisi ekonomi sedang carut marut sekalipun, karena dia harus memproteksi dana yang disetor investor.

Rambu-Rambu Reksadana
Bagaimana mengetahui reksadana yang baik dan menguntungkan? Pertimbangkan saja aspek-aspek berikut ini:

1. Keuntungan yang dimaksud harus optimal, dalam arti sesuai dengan risiko yang dihadapi
2. Evaluasilah portfolio. Apakah ia mempunyai likuiditas yang relatif tinggi. Misalnya untuk portfolio obligasi, dilihat dari ratingnya, untuk saham dilihat termasuk LQ45 atau tidak.
3. Cara lain dalam memilih manajer investasi adalah dengan melihat dana kelolaan pada reksadana yang dipilih. Ini menunjukkan seberapa besar kepercayaan nasabah terhadap reksadana itu. Ingat, butuh waktu untuk mencapai keuntungan yang maksimal, jadi jangan terkecoh dengan besarnya dana kelolaan, padahal waktunya belumlah lama (baru sebentar).
4. Hitung biaya masuk, biaya manajemen, biaya switching, dan biaya keluar.

Dipublikasi di reksadana | Tinggalkan Komentar

Berani Ambil Resiko? Pilih Reksadana! (1)

Investasi bukan melulu menghitung untung, tapi juga bersiap-siap dihadang kerugian. Jika berani ambil risiko, pilih saja reksadana. Tenang saja, keuntungan yang ditangguk juga tidak main-main!

Tak bisa dipungkiri jika lebih banyak orang akan memilih jalan paling aman, sekalipun dibutuhkan waktu lama untuk sampai di tujuan, ketimbang jalan pintas yang sebenarnya bisa membuat perjalanan lebih singkat.

Alasannya hanya satu, takut tersasar di tengah jalan alias tak berani mengambil risiko. Padahal siapa tahu, jalan pintas yang membuat lebih cepat sampai ke tempat tujuan, memberikan kesempatan menguntungkan.

Sama halnya dengan berinvestasi, rasanya nama “reksadana” lebih asing daripada tabungan atau deposito. Bisa jadi karena masih buta dengan seluk beluk reksadana dan ketakutan risiko kerugian yang membayanginya.

Padahal, pada praktiknya reksadana memberikan keuntungan lebih banyak ketimbang dua pilihan tadi. Tentu saja ada triknya agar investasi di reksadana tidak sia-sia begitu saja, ikuti saja penjelasan dari perencana keuangan, Ir. Taufik Gumulya, CFP dari ISI CIT.

Mengenal Reksadana
Reksadana dapat diartikan sebagai wadah penghimpunan dana dari masyarakat selaku investor oleh manajer investasi yang kemudian ditanamkan dalam portfolio investasi. Jadi, terdapat tiga bagian utama dalam reksadana, yaitu kumpulan dana, portfolio investasi, dan manajer investasi.

Jika masih bingung, analogi dari Taufik dapat membantu, “Reksadana ibarat suatu kendaraan yang Anda tumpangi, tak perlu takut terjadi kecelakaan, karena sopirnya sudah mempunyai SIM khusus yang dapat membawa Anda sampai ke tempat tujuan yang diinginkan.”

Sopir yang dimaksud Taufik adalah manajer investasi. Dialah yang berperan sebagai pengelola profesional dari dana investor. Nantinya, manajer investasi akan memilah-milah portfolio mana yang sesuai dengan keingingan investor sekaligus menguntungkan investor.

Tugasnya adalah untuk menghitung berapa besar investasi nasabahnya dan ditempatkan di reksadana mana saja. Dia akan memberikan alternatif saran bagi investor, namun keputusan tetap berada di tangan investor.

Dengan memiliki manajer investasi, investor juga tak perlu repot-repot memantau perkembangan investasinya. Sudah ada manajer investasi yang mengambil alih tugas tadi sekaligus memberikan laporan berkala. Hemat waktu, bukan?

Namun jangan lupa, untuk memantau kinerjanya sebelum memilih manajer investasi yaitu dengan melihat sejarah keuntungan (history return) yang dia raup melalui reksadana. “Misalnya untuk reksadana saham, patokannya adalah saham, jika dia bisa mencapai return yang sama, itu sudah cukup baik. Jika di bawah standar, berarti dia tidak menampilkan kinerja yang terbaik,” jelas Taufik.

Modal Awal Reksadana
Lain lagi jika investor ingin membuka reksadana lewat jalur perbankan yang kini mulai menjamur. Pintu masuk reksadana tidak langsung melalui manajer investasi tapi melalui account officer di bank tadi. Ada kemungkinan, proseduralnya tidak dilakukan sebaik mungkin, seperti tidak memberi saran.

Padahal, saran sangatlah penting. Taufik lalau menyarankan, agar investor juga mempunyai perencana keuangan sebagai penunjuk jalan. Untungnya, saat ini beberapa bank yang menyadari pentingnya perencana keuangan. Pertama, agar saran yang diberikan lebih mengena dan kedua, menguntungkan kedua belah pihak. “Seperti memasarkan produk wealth management bank tadi,” ujar Taufik.

Portfolio sendiri adalah aset alokasi seperti saham, obligasi, pasar uang, ataupun sekuriti lainnya. Mekanismenya seperti ini, manajer investasi yang menjual produk reksadana saham mempunyai nasabah-nasabah yang menyalurkan dana kepadanya, “Misalnya terkumpul Rp. 1 trilyun, sebagian besar aset itu akan dialokasikan di saham-saham Bursa Efek Jakarta, sebagian kecil saya tempatkan di obligasi atau deposito. Itulah portfolio,” jelas Taufik.

Lantas berapa banyak dana yang harus disalurkan agar bisa memulai berinvestasi di reksadana? “Tidak besar. Reksadana bisa dimulai dari Rp. 100 ribu per bulan pun sudah bisa,” cetus alumni Universitas Trisakti ini. Memang terdapat beberapa perbankan yang mensyaratkan nasabah untuk memiliki dana besar sebelum melakukan investasi, misalnya Rp 50 juta.

Taufik juga menegaskan, tidak perlu gentar. Mintalah bantuan kepada perencana keuangan untuk menginvestasikan dana, karena ada perbankan yang tidak menetapkan dana awal sebanyak itu. Bahkan, ada bank yang memperbolehkan nasabah memulai reksadana dengan dana Rp 500 ribu, tapi untuk selanjutnya Rp 100 ribu per bulan. Terjangkau, kan?

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Apa Perlu Beli Dolar?

Di tengah kondisi perekonomian dolar yang tengah lesu, Anda mungkin menimbang-nimbang apakah sebaiknya membeli dolar atau tidak. Agar tak salah langkah, simak tips dari Safir Senduk berikut ini.

1. Belilah dolar di pedagang yang resmi
Salah satu hal yang paling ditakutkan orang ketika membeli dolar adalah mendapatkan uang dolar palsu. Nah, salah satu cara menghindari kemungkinan tersebut adalah dengan membelinya ke penjual resmi, seperti bank atau money changer.

Memang, bank atau money changer sekalipun bisa saja menjual dolar palsu kepada Anda. Tapi tentu mereka punya kepentingan supaya Anda mau selalu balik ke tempat mereka dan jadi pelanggan. Artinya, mereka juga menjaga reputasi. Kalau sampai satu pelanggan kecewa lalu nama mereka masuk ke dalam Surat Pembaca di koran? Wah, bisa jadi iklan buruk buat mereka.

Sekarang, bandingkan dengan penjual dolar perorangan dan tidak resmi yang umumnya tidak punya reputasi yang sudah dibangun sehingga biasanya juga tidak memiliki kepentingan untuk menjaga reputasinya.

2. Jangan pernah lama-lama memegang uang dolar kertas
Kenapa demikian? Karena perubahan fisik sedikit saja pada uang dolar Anda bisa membuatnya dihargai lebih rendah dari yang seharusnya. Pernah suatu hari saya dan istri saya mendapatkan dolar Amerika kertas dari seorang teman.

Jumlahnya 200 dolar. Kami mendapatkannya dalam empat lembaran 50 dolar. Kursnya waktu itu sekitar Rp 9.100 per dolarnya. Ketika hendak menjual ke money changer, ada selembar yang fisiknya agak kuning. Langsung saja staf di sana mengatakan dia tidak mau membeli dolar saya seharga Rp 9.100, melainkan harus dipotong Rp 50.

Ini berarti, untuk satu lembar 50 dolar itu, saya rugi Rp 50 per dolarnya. Saya pikir, untunglah cuma selembar saja yang bentuk fisiknya kuning. Kalau semuanya, wah… Jadi, sekali lagi, jangan terlalu lama menahan uang kertas dolar. Lebih baik selekasnya Anda simpan di safe deposit box, atau setorkan saja ke bank.

Memang saat kita setor terkadang biaya selisih kursnya merugikan Anda. Tapi saya pikir, kerugian karena selisih kurs masih lebih mendinglah daripada kerugian akibat peribahan fisik dolar. Lama-lama, bisa-bisa uang dolar Anda malah tidak dihargai sama sekali kalau bentuk fisiknya betul-betul rusak. Kalau disetor ke bank, uang dolar Anda akan tercatat di sistem akuntansi mereka, bukan dalam bentuk fisik. Selain itu, juga dapat bunga. Lumayan, kan?

3. Ketahui arti istilah Kurs Beli dan Kurs Jual
Banyak dari kita yang masih salah mengartikan (atau sering tertukar pada arti) kurs beli dan kurs jual pada tempat jual beli dolar. Oke, andaikan saja Anda datang ke bank. Kemudian di situ terdapat tulisan kurs beli sebesar Rp 9.000 dan kurs jual Rp 9100. Pertanyaannya sekarang, kalau Anda ingin membeli dolar, pada harga berapa Anda akan membeli dolar tersebut?

Jawabannya adalah pada kurs jual. Artinya, kurs jual adalah kurs di mana bank bersedia menjual dolarnya. Sebaliknya, kurs beli adalah kurs di mana bank bersedia membeli dolar yang Anda punya. Anda harus selalu melihat dan mengartikan besarnya kurs dari sisi mereka, bukan dari sisi Anda. Bukan sebaliknya.
Nah, selamat membeli dolar.

Dipublikasi di tabungan, tips | Tinggalkan Komentar

Kiat Berkelit Saat Utang Melilit


Yang namanya utang biasanya memang enak di awalnya. Giliran mengembalikan, hmmm… beratnya.

Di bawah ini adalah 3 kiat agar terhindar dari utang macet:

1.Cicilannya Sesuai Kemampuan
Biasanya maksimal sekitar 30 persen dari penghasilan bulanan Anda. Bisa saja, sih, lebih dari itu. Tapi mungkin Anda tidak bisa memenuhi kebutuhan yang lain. Nah, jika kebutuhan lain tak bisa dihindari, akibatnya dana membayar cicilan utang akan terpakai.

2.Memilih Pemberi Utang
Ini penting jika sewaktu-waktu Anda kesulitan dalam membayar utang. Anda membutuhkan pihak yang fleksibel dan tidak kaku dalam bernegosiasi jika nanti Anda memang mengalami kesulitan dalam membayar.

3.Tujuan Mengambil Utang
Tidak ada program utang yang bagus untuk semua orang. Ini karena setiap orang biasanya mengambil utang untuk tujuan yang berbeda-beda. Karena itu, cobalah perhatikan untuk tujuan apa Anda mengambil utang. Untuk tujuan konsumsi, usaha atau apa? Hati-hati bila tujuan untuk konsumsi, apalagi kalau konsumsi tersebut tidak berhubungan dengan kegiatan Anda mendapatkan penghasilan. Kalau Anda mengambil utang untuk tujuan usaha, perhatikan dengan baik kelayakan usahanya. Begitu seterusnya.

Dipublikasi di kredit, tips | Tinggalkan Komentar

Deposito, Aman Meski Tetap Beresiko (2)


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Sebagai pilihan untuk berdeposito, bank pemerintah direkomendasikan sebagai pilihan aman. Namun, jangan lupa untuk memperhatikan bentuk penalti atau jumlah suku bunganya.

Agar lebih jelas, Anda bisa mulai mengeceknya terlebih dahulu melalui internet maupun Bapepam, untuk melihat profil bank mana yang paling sehat. “Jangan pilih bank yang menjanjikan bunga lebih tinggi dari bank lain. Waspadai hal itu!” tegas Mike.

Mengapa? Banyak orang mengeluhkan, saat ini bunga deposito tergolong kecil. Sebenarnya, menurut Mike, bunga deposito yang kecil justru baik untuk menstabilkan kondidi perekonomian. “Bayangkan kalau suku bunga tinggi, inflasi tinggi, orang-orang akan sulit untuk meminjam uang. Jadi, jangan menyimpan semua uang di deposito. Jika suku bunganya tinggi, bahkan sampai 30 %, bisa-bisa rencana usaha yang akan dilakoni akan jalan ditempat.”

Di samping itu, menyimpan uang dalam bentuk deposito juga bisa dalam mata uang asing, misalnya dalam dollar AS. Namun, yang harus diperhatikan adalah tujuannya. Bila untuk biaya sekolah atau kuliah anak di luar negeri, tentu akan menjadi baik hasilnya. Sebaliknya, bila tak ada tujuan yang pasti, hasilnya jadi tak akan maksimal.

“Iya, kalau nilai dollar-nya naik? Bagaimana kalau turun? Lebih baik menyimpan dalam rupiah saja. Biasanya, tingkat suku bunga mata uang asing, jauh lebih kecil dibandingkan rupiah, hanya 1 %. Kecuali bila ada rencana besar yang dituju, boleh saja menyimpan dalam dollar AS, misalnya. Bila untuk pegangan saja, tak perlu terlalu banyak menyimpan.” Nah, sudah siapkan Anda berdeposito?

Mencairkan Deposito
Sulit tidak sih mencairkan deposito? Asal syaratnya terpenuhi, mencairkan deposito amatlah mudah. Cukup membawa bilyet deposito, kartu tanda pengenal (KTP), karti ATM atau buku tabungan. Dana yang akan dicairkan dapat langsung ditransfer ke dalam rekening tabungan yang dimiliki.

Misalnya, deposito yang dimiliki Rp 30 juta, tetapi Anda hanya membutuhkan untuk mencairkan Rp 15 juta. Artinya, yang Rp 15 juta akan ditransfer ke rekening tabungan Anda, sisanya dimasukkan lagi ke deposito. Sebaiknya, bila sudah bisa mengumpulkan Rp 15 juta lagi, segeralah depositokan kembali. Bila ingin ditambahkan ke deposito lama, tunggulah sampai tanggal jatuh tempo, kemudian membuka deposito baru.

Mike menyimpulkan, tak ada satupun produk sekuritas yang lebih bagus dari yang lain. “Hal ini tergantung kepada investornya. Tiap produk pasti ada risikonya, bahkan tabungan yang paling aman pun tetap ada risikonya,” tandas Mike, yang sudah menulis buku Mewujudkan Rumah Idaman “Tips dan Trik Mendapatkan KPR” dan 120 Solusi Mengelola Keuangan Pribadi.

Plus & Minus Deposito
Sebelum buru-buru berkunjung ke bank dan menyimpan uang, sebaiknya Anda simak dulu sejumlah informasi penting seputar deposito berikut!

1. Setoran Minimal
Jumlah minimal penyimpanan deposito akan lebih besar daripada setoran awal ketika membuka rekening tabungan, yang dalam jumlah kecil (antara Rp 50 ribu sampai Rp 500 ribu). Maka, sebaiknya Anda harus memiliki jumlah uang lebih besar. Meski masing-masing bank berbeda-beda, rata-rata untuk berdeposito harus memiliki uang minimal Rp 5 juta.

2. Jangka Waktu
Dalam berdeposito, mengharuskan adanya pengendapan dana selama jangka waktu tertentu seperti 1, 3, 6, atau 12 bulan. Bahkan,a da pula yang jangka waktunya lebih cepat, yaitu 1-2 minggu. Dengan adanya jangka waktu ini, bila ingin menambah jumlah deposito, Anda tak dapat melakukannya sesuka hati. Sebaiknya, konsultasikan kepada pegawai bank bersangkutan.

3. Pencairan Dana
Dengan adanya jangka waktu, dana deposito juga tak bisa dicairkan begitu saja, melainkan hanya dapat dilakukan pada saat jatuh tempo saja. Jika tetap ingin mencairkannya sebelum jatuh tempo, Anda dapat terkena penalti (dipotong sekian persen, tergantung bank-nya) atau bunga tak dibayarkan selama sebulan ke depan.

4. Bunga Deposito
Bunga deposito lebih besar daripada bunga tabungan, sehingga dapat dijadikan sarana investasi dibandingkan tabungan biasa. Suku bunganya berbeda-beda pada setiap bank. Semakin pendek jatuh temponya, bunganya akan semakin rendah. Sebaliknya, jatuh temponya semakin panjang, suku bunganya pun akan semakin tinggi.

5. Risiko Rendah
Kendati bunganya lebih tinggi dari tabungan biasa, deposito termasuk produk simpanan yang berisiko rendah.

Dipublikasi di deposito | Tinggalkan Komentar

Deposito, Aman Meski Tetap Beresiko (1)

Selain tabungan, deposito tentu menjadi pilihan aman untuk menyimpan uang. Lalu, menguntungkankah bila menyimpan uang dalam mata uang asing di hari ini? Masih bingung memilih produk simpanan bank yang aman dan pasti? Mengapa Anda tidak mulai melirik ke deposito? Menurut Mike Rini Sutikno, CFP, Financial Planning & Education dari MRedu, deposito merupakan produk simpanan di bank yang memiliki jangka waktu penyimpanan. “Penyetoran maupun penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu saja, atau sesuai dengan jatuh temponya. Deposito juga dikenal sebagai tabungan berjangka,” papar Mike. Kendati demikian, menurut Mike, rasanya kurang bijaksana bila semua uang yang dimiliki didepositokan. Idealnya, tetap harus melihat prioritas, uang yang dimiliki akan digunakan untuk apa saja. Sehingga, sebelum berinvestasi atau mengambil investasi, sebaiknya alokasikan dana terlebih dulu untuk emergency fund atau dana darurat cadangan. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menopang keuangan keluarga. Fungsinya, jika ada pengeluaran tak terduga, misalnya terkena musibah, rumah kebakaran, atau terkena PHK, Anda masih punya cadangan uang yang sudah dialokasikan ke dana darurat tadi. Sedia Payung Sebelum Hujan Bila tak memiliki dana cadangan, Mike mengingatkan, bisa-bisa uang tabungan anak, uang untuk membeli rumah, atau uang rencana pendidikan anak malah terpakai. Ruginya, bila mengambil dari sumber-sumber dana tadi, bisa jadi uang yang seharusnya dipakai untuk jangka waktu yang masih lama jadi tak tercapai, karena sudah habis untuk pengeluaran darurat tadi. Sebaiknya, kata Mike, sebelum berdeposito, Anda sebaiknya menyediakan paying dulu sebelum hujan turun alias menyiapkan dana cadangan terlebih dahulu sebesar 6 sampai 12 kali pengeluaran keluarga per bulan. Bila dirasa terlalu besar, bisa saja hanya sebesar 3 kali pengeluaran keluarga per bulan saja. Bila suatu hari nanti terkena musibah seperti kebanjiran, kebakaran, atau kendaraan hilang, meski ada asuransi yang akan mengganti, namun uangnya tak bisa langsung cair dan perlu waktu beberapa lama dalam mengurusnya. Sehingga, mau tak mau Anda harus memakai dana cadangan dulu, bukan? Atau terkena PHK, misalnya, yang tidak tertutupi oleh asuransi. Padahal Anda masih harus tetap membayar banyak tagihan seperti iuran listrik, air, telepon, biaya makan sehari-hari, dan biaya sekolah anak. Jika punya dana darurat, Anda bisa mengambil uang dari sumber dana ini sampai mendapat pekerjaan kembali. “Belum tentu, kan, dalam 3 bulan setelah di PHK langsung mendapat pekerjaan. Nah, dengan menyediakan dana cadangan untuk 6 bulan ke depan, akan membuat keluarga merasa aman dan terjamin,” jelas pembawa acara tetap di sebuah radio di Jakarta ini lagi. Tujuan Deposito Selanjutnya, deposito dapat dijadikan sarana untuk mengumpulkan dana darurat ini. Selain mudah diaskes, deposito juga dapat dicairkan kapan saja. Namun jangan lupa, bila dicairkan sebelum jatuh tempo, biasanya bila tak kena penalti, bunganya tak akan dibayarkan dalam sebulan berjalan. Misalnya, mengambil deposito dengan jangka waktu (jatuh tempo) sebulan. Sebelum sampai sebulan, Anda sudah membutuhkan uang. Bisa saja dana ini dicairkan, dan jumlah pokoknya pun tidak akan hilang. Tetapi Anda harus memilih antara dikenai penalti atau bunganya tak dibayarkan selama sebulan berjalan. “Jika berdeposito tujuannya memang untuk kepentingan dana darurat, ambil saja yang jangka waktunya 1 bulan,” saran Mike. Selanjutnya, jika tujuan berdeposito adalah untuk membeli atau membayar uang muka rumah, yang akan dibeli setahun mendatang, pilih saja deposito dengan jangka waktu 12 bulan. Bagaimana bila tujuannya tidak untuk apa-apa (hanya menabung saja)? Bila begitu tujuannya, Mike menyarankan, pilih yang yang jangka waktunya 1 bulan saja. Lalu, bagaimana jika meminjam uang dari bank, kemudian uang itu didepositokan? Mike sangat tidak menyarankan hal ini, sebab suku bunga pinjaman (24 % atau 17 %) lebih tinggi dari bunga deposito (hanya 7 %). Bisa-bisa malah minus hasilnya. “Kecuali jika uang pinjaman dari bank tadi langsung dipakai untuk modal usaha, tidak disimpan dulu. Hanya saja, bila usahanya baru dimulai, sebaiknya memang jangan meminjam dari bank, karena usahanya belum menghasilkan pemasukan. Kecuali, setelah usahanya mulai stabil dan ada keuntungan, uangnya bisa dipakai untuk membayar cicilan pinjaman.” Mike juga menyarankan, sebaiknya jangan menyimpan uang (membuka deposito) dalam satu tempat, karena risikonya terlalu tinggi. Meski tabungan dan deposito memang aman, tetapi penegmbalian dananya akan di bawah inflasi. Ibarat menabung di celengan, uangnya tidak akan berkembang. Sebagai gambaran, nilai uang Rp 100 juta saat ini, tentu tidak akan sama lagi dengan 10 tahun mendatang. Dan bila semua disimpan di deposito, sementara tingkat inflasi lebih tinggi dari suku bunga deposito, maka uang yang Anda simpan jadi tidak akan “berkembang”. Dengan kata lain, Anda hanya mengumpulkan uang saja, meski aman tetap ada risikonya. Yang Mike sarankan adalah membagi uang simpanan secara proposional, yaitu dibagi untuk tabungan, deposito, saham, reksadana, membeli emas, membuka usaha, atau membeli properti. “Tetapi, pemilihan produk-produk sekuritas tadi sangat tergantung kepada profil risiko dari seseorang. Yang terpenting, memang harus punya tabungan dan deposito saja dulu.”

Dipublikasi di tips | Tinggalkan Komentar

3 Keranjang Kehidupan Finansial

Semua orang harus bekerja / berusaha untuk mendapatkan penghasilan. Penghasilan tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar masing-masing. Kebutuhan hidup tidak akan sama untuk semua orang, karena standar hidup tiap orang juga berbeda. Akan tetapi semuanya akan mempunyai persamaan yaitu setelah pemenuhan kebutuhan hidup terpenuhi, maka sisanya akan ditabung.

Jika Anda menanyakan kepada orang-orang apa yang dilakukan mereka terhadap tabungannya, yakinlah bahwa jawabannya pasti beraneka ragam. Kenapa? Karena mereka menabung untuk memenuhi tujuan hidupnya masing-masing. Ada yang ingin mempunyai rumah, ada yang ingin menyekolahkan anak, ada yang ingin mempunyai mobil mewah, ada yang hanya ingin membantu orangtua. Apa pun tujuan orang untuk menabung, secara garis besar bisa dikelompokan ke dalam 3 keranjang kehidupan seperti berikut:

Keranjang Pertama (I) – Security (Keamanan)

Keranjang ini berisi dana darurat, asuransi jiwa, asuransi kesehatan, tabungan pensiun dan tabungan sejenis lainnya.

Keranjang ini adalah yang pertama dan yang utama. Seharusnya setiap orang harus mengisi terlebih dahulu keranjang I ini. Akan tetapi kenyataannya banyak orang yang mengabaikan keranjang I ini, mereka lebih memilih untuk langsung mengisi keranjang II. Mereka tidak sadar bahwa banyak sekali resiko yang harus dihadapi seseorang dalam kehidupan ini. Coba perhatikan ilustrasi di bawah ini:

Ada 2 orang yaitu Mr Siap dan Mr Belum, keduanya bekerja di perusahaan yang sama. Mr Siap memfokuskan tabungannya untuk menyiapkan dana darurat, sedang Mr Belum hanya memfokuskan diri untuk investasi saja. Setelah beberapa waktu mereka sudah mempunyai tabungan yang cukup, tiba-tiba perusahaan tempat mereka bekerja mengalami masalah sehingga harus melakukan PHK masal. Mr Siap dan Mr Belum termasuk orang yang terkena PHK tersebut. Kita lihat bagaimana hal tersebut mempengaruhi kehidupan mereka.

Untuk keperluan sehari-hari, Mr Siap tidak terlalu bermasalah karena dia sudah menyiapkan dana darurat yang cukup untuk mengantisipasi hal ini. Sekarang dia sedang memfokuskan diri untuk mencari pekerjaan yang baru, dan masih memungkinkan bagi Mr Siap untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Sebaliknya dengan Mr Belum, dia sekarang sedang pusing memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Mr Belum menginvestasikan tabungannya dalam bentuk properti dan tidak dapat menjual properti tersebut dengan mudah, sehingga Mr Belum harus cepat-cepat mencari kerja dan dia pasti akan menerima pekerjaan apapun demi mencari penghasilan.

Dari ilustrasi di atas, Anda dapat melihat mengapa kita mengutamakan keranjang I lebih dahulu. Keranjang I ini, kita tidak terlalu mementingkan return atau hasil tapi lebih mengutamakan kemudahan dicairkan pada saat dibutuhkan (liquidity).

Keranjang Kedua (II) – Growth (Pertumbuhan)

Keranjang kedua adalah tabungan berupa properti, usaha, investasi dan tabungan sejenisnya.

Pada keranjang ini seseorang mulai mengharapkan bahwa apa yang ditabung akan bertumbuh menjadi lebih banyak. Ada banyak cara untuk mengembangkan aset Anda.

Keranjang Ketiga (III) – Luxury (Kemewahan)

Keranjang ketiga adalah tabungan yang ditujukan untuk kemewahan, seperti jalan-jalan ke luar negeri, mobil mewah, rumah mewah, executive club, dan tabungan yang ditujukan untuk kemewahan lainnya.

Jika Anda mengisi keranjang ini pastikan bahwa Anda telah mengisi keranjang I dan II. Keranjang ini adalah keranjang biaya, tidak ada pertumbuhan di keranjang ini. Seseorang harus sudah mempunyai kemapanan finansial atau kebebasan finansial (financial freedom) baru dia boleh mengisi keranjang ini, jika tidak akan sangat berbahaya.

Masa depan Anda bukan hanya ditentukan oleh kesempatan, melainkan pilihan. Jadi, bijaklah dalam memilih dan bangun kehidupan keuangan Anda dengan penuh hikmat.

Sumber : merencanakankeuangan

Dipublikasi di asuransi, kredit, tabungan, tips | Tinggalkan Komentar

Siapkan Dana Masa Depan Anak

Memberikan serta merencanakan yang terbaik untuk anak tentunya akan Anda lakukan. Karenanya tak heran apabila sebelum anak melangkah ke jenjang berikutnya, sebagai orangtua, Anda akan mempersiapkan diri dengan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan anak di masa depan. Mulai dari merencanakan pendidikan yang akan dijalani hingga mungkin mempersiapkan dana untuk biaya nikah sang anak kelak.

Wah apa tidak terlalu jauh tuh pemikirannya? Rasanya memang aneh apabila hal tersebut terbersit dalam pemikiran Anda saat ini. Sebab siapa tahu kondisi Anda sendiri saat ini masih serba pas-pasan. Boro-boro buat menyiapkan apa yang dituliskan di atas, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah rasanya masih bisa bersyukur.

Ya memang, mengingat segala sesuatunya sulit diperoleh saat ini, hal pemikiran tesebut wajar saja mematahkan keinginan Anda untuk mempersiapkan yang terbaik bagi anak. Namun jika dipahami benar arti mempersiapkan segala sesuatunya untuk anak Anda, bukan berarti berupa materi saja, bahkan mungkin secara tidak sadar Anda sendiri sebenarnya telah mempersiapkan banyak hal demi masa depan anak. Contoh kecilnya saja Anda telah membeli satu buah unit desktop PC. Hal itu sebenarnya merupakan investasi yang cukup berarti untuk anak Anda. Karena dengan hadirnya desktop PC tersebut, Anda dapat memperkenalkan atau mengajarkan pada anak bagaimana menggunakan PC dengan baik. Dan hal tersebut tentunya bekal yang cukup besar artinya bagi anak. Karena bukan tidak mungkin di saat serba modern seperti sekarang ini dunia komputer semakin canggih dan si anak telah mempelajari kecanggihan yang ada sedini mungkin.

Sementara itu bagi Anda yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, menyisihkan dana yang ada demi masa depan anak tak dilarang untuk dilakukan. Walaupun pada awalnya Anda hanya mampu untuk menyisihkan sedikit dari pendapatan Anda. Namun setidaknya Anda telah berupaya. Tanamkan dalam benak Anda bahwa bukan nilai nominal yang Anda hitung, karena nilai nominal akan berkembang secara sendirinya seiring dengan waktu. Namun mungkin nilai perhatian Anda pada masa depan anak jauh lebih besar nilainya. Dengan demikian Anda, makin terpacu untuk melakukan hal tersebut.

Sumber : Berbagai sumber

Dipublikasi di tips | Tinggalkan Komentar

Tips Keuangan Bagi Para Single

Anda masih single? Sebagian dari Anda pasti menjawab ya. Jika kita bicara mengenai pengelolaan keuangan termasuk pola berinvestasi, sebenarnya ada sedikit perbedaan antara para single dan kalangan yang sudah berkeluarga.

Tentu saja pengertian single dalam paparan ini benar-benar diperuntukkan bagi orang yang belum pernah menikah. Dengan kata lain, single parent (khususnya yang sudah mempunyai anak) tidak termasuk dalam kategori single. Hal ini penting untuk diklarifikasikan agar penerapan seni pengelolaan keuangan yang akan dibahas di sini tidak akan disalahartikan.

Sebagaimana kerap dibahas, setiap orang pasti memiliki tujuan keuangan tidak peduli siapa dan bagaimana statusnya. Namun, tujuan keuangan setiap orang pasti tidak sama, tergantung kondisi keuangan saat ini dan pengaruh latar belakang serta lingkungan yang bersangkutan. Kendati demikian, tujuan keuangan lazimnya terkait dengan usia dari setiap orang. Nah, pembahasan berikut lebih ditekankan pada permasalahan keuangan bagi para single berusia 25-40 tahun, dengan asumsi mereka telah memiliki penghasilan.

Dalam kaitan dengan tujuan keuangan, para single sebaiknya memastikan terlebih dahulu apakah akan menikah dan kemudian memiliki anak, atau menikah namun tidak berencana memiliki keturunan, atau malah tetap melajang. Tidak ada yang salah dengan pilihan seperti ini. Setiap orang memiliki hak asasi, kendati belum tentu dianggap lazim di masyarakat kebanyakan.

Jika Anda berencana menikah, harus juga dipastikan apakah Anda akan menempuh kesepakatan pisah harta atau sebagaimana kebanyakan orang Timur, harta setelah menikah akan menjadi milik bersama. Ini juga penting sebab akan terkait dengan prioritas investasi yang akan Anda lakukan.

Oke, agar tidak menjadi perdebatan kita gunakan saja asumsi yang banyak dirujuk berbagai kalangan, yakni single yang akan menikah, memiliki keturunan dan kemudian harta yang diperoleh akan menjadi harta bersama.

Pengelolaan Keuangan dan Pola Investasi Para Single

Pertama, buat prioritas dalam tujuan keuangan Anda. Kongkretnya, bagaimana mendayagunakan penghasilan Anda untuk memenuhi tujuan keuangan berdasarkan urutan tertentu. Termasuk apakah Anda telah atau akan mengumpulkan dana dalam jumlah cukup untuk membiayai pernikahan. Jika jawabannya belum, maka menyiapkan dana pernikahan mestinya menjadi salah satu prioritas keuangan Anda dalam jangka waktu tertentu. Artinya, suka tidak suka, Anda harus menyisihkan sebagian pendapatan Anda dalam bentuk tabungan untuk persiapan pernikahan.

Kedua, sebagaimana kelaziman hidup manusia, kebutuhan yang mendasar adalah sandang, pangan dan papan. Oleh karena itu penghasilan yang saat ini telah dimiliki harus dialokasikan paling tidak untuk memenuhi kebutuhan mendasar itu. Jadi, ada penghasilan yang harus dipergunakan untuk konsumsi sehari-hari (pangan dan sandang), dan ada juga yang harus disisihkan untuk memenuhi kebutuhan papan. Belakangan aspek ini juga diperluas menjadi alat transportasi. Pertanyaannya, bagaimana caranya memenuhi kebutuhan akan rumah dan kendaraan bagi para single?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kembali kepada masing-masing orang mana yang paling prioritas. Jika saat ini sudah memiliki kendaraan atau tidak masalah menggunakan kendaraan umum, maka yang mestinya menjadi prioritas adalah bagaimana memiliki tempat tinggal. Bagi sebagian single, mungkin saat ini masih tinggal bersama orangtua, mengontrak rumah atau malah indekos.

Bila demikian, hendaknya dipahami hal tersebut adalah kondisi sementara di mana suatu ketika Anda tetap membutuhkan rumah tatkala Anda sudah menikah. Oleh karena itu memiliki rumah mestinya menjadi salah satu tujuan keuangan. Hal yang sama juga berlaku bagi para lajang yang belum memiliki kendaraan dan merasa kendaraan umum hanyalah untuk sementara.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Yang paling sederhana adalah sisihkan sebagian pendapatan Anda untuk dimasukkan dalam sebuah rekening, dan setelah mencapai jumlah tertentu, gunakan untuk membeli rumah atau kendaraan.

Mungkin Anda akan mengatakan, bila sarannya seperti itu semua orang juga tahu. Oke, Anda benar. Tetapi, apakah pernah terbayang dalam benak Anda yang dimaksud sebagai rekening tidak selalu harus rekening tabungan. Anda tetap harus menyisihkan sebagian pendapatan, namun bukan sebagai tabungan melainkan sebagai pembayaran cicilan pembelian rumah atau kendaraan.

Kongkretnya, jika Anda bermaksud memiliki rumah dam kendaraan, sebenarnya Anda bisa melakukannya dengan pembayaran angsuran. Dengan cara seperti itu Anda akan memiliki rumah dan kendaraan lebih cepat. Tentu saja tatkala Anda menikah, Anda mesti menceritakan keadaan tersebut kepada pasangan Anda. Jika pasangan Anda bekerja, ia bisa membantu untuk turut membayar angsurannya.

Ketiga, kehidupan juga mesti diproteksi. Hal yang kerap dilupakan para single adalah seolah-olah hidup tidak memiliki resiko dan kemudian merasa tidak membutuhkan asuransi. Ini keliru. Suatu ketika Anda akan menikah dan pasangan maupun keturunan Anda perlu dilindungi. Oleh karena itu, Anda juga perlu menginvestasikan sebagian penghasilan dalam bentuk asuransi, khususnya asuransi jiwa.

Pada saat masih melajang, yang menjadi “ahli waris” bisa saja orangtua atau orang yang ditunjuk. Namun setelah menikah, “ahli waris” bisa dipindahkan ke pasangan atau keturunan Anda nantinya. Salah satu keuntungan mengambil asuransi kala masih single adalah preminya akan lebih murah sebab jangka waktunya relatif lebih panjang.

Selain memperhatikan beberapa hal di atas sebagai prioritas tujuan keuangan bagi Anda yang masih single, tentu saja masih banyak hal lain, termasuk pilihan investasi. Namun, esensinya, menjadi single bukan berarti boleh mengelola keuangan seolah-olah tanpa perlu memikirkan pihak lain. Kebanyakan orang masih beranggapan, status single adalah sementara. Menikah hakekatnya akan menjadi salah satu tujuan hidup. Dan pada gilirannya, tujuan keuangan pun sebaiknya disesuaikan dengan tujuan hidup tersebut.

Sumber : Berbagai Sumber

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Mitos Kekayaan yang Menjerumuskan

Siapa di antara Anda yang tidak ingin menjadi kaya? Kaya di sini tentu saja dalam artian memiliki aset yang lebih dari cukup, baik itu aset likuid maupun non likuid. Tapi, sebagian dari Anda boleh jadi akan menjawab bahwa kekayaan itu bukan hal penting. Yang terpenting adalah bagaimana bisa hidup bahagia.

Anda benar, tetapi memiliki aset yang memadai juga penting, kendati bukan hal terpenting. Sebab, tidak sedikit kalangan yang hidupnya malah hanya mengejar kekayaan dan akhirnya terjebak dalam paradigma uang adalah segalanya. Yang benar adalah bagaimana menjadi seimbang, yakni berupaya memiliki kekayaan secara wajar dan halal serta mampu menikmati dan memanfaatkannya. Konkretnya, enggan memiliki kekayaan juga bukan hal benar, namun berupaya meningkatkan kekayaan dengan segala cara lebih tidak benar.

Untuk tidak terjebak pada makna kekayaan, baik dalam pandangan yang menganggap kekayaan adalah segalanya dan juga sebaliknya, tidak salah jika kita cermati beberapa mitos yang mengemuka dalam masyarakat berkaitan dengan uang atau pun kekayaan.

1. Uang tidak pernah cukup, maka harus dikejar terus

Mitos ini salah kaprah, karena pada dasarnya uang selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang.

Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih dahulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Memang tingkat kebutuhan setiap orang berbeda, namun yang penting Anda harus menentukan sesuai dengan tingkat kehidupan yang Anda inginkan.

Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.

Jadi, bukan bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya, melainkan mengkondisikan keadaan sehingga Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa Anda memiliki uang dalam jumlah besar kalau beberapa saat kemudian uang tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup, namun terus berkelanjutan.

2. Jika memiliki uang, orang dapat memenuhi semua keinginannya

Ini juga keliru. Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal-hal yang menyangkut ‘rasa’ di hati kerap tidak terkait dengan uang. Kalaupun ada yang mencoba membeli, sifatnya artifisial dan hanya sementara. Jadi, kalau pada dasarnya memang tidak bahagia, maka kendati memiliki uang berkarung-karung tetap saja tidak bahagia.

Oleh karena itu, jangan pernah berpikir uang merupakan satu-satunya cara mencapai tujuan hidup Anda. Atau di sisi lain, jika Anda masih belum mampu mendapatkan uang dalam jumlah memadai, bukan berarti kiamat. Berapa pun uang Anda, sebenarnya tetap cukup, sepanjang Anda mau melakukan penyesuaian.

3. Uang perlu dicari agar bisa pensiun dan tidak perlu bekerja lagi

Ini juga tidak terlalu tepat. Bekerja dan mencari uang adalah dua hal yang berbeda. Artinya, jika mencintai pekerjaan dan mendapatkan makna hidup di situ, kenapa harus pensiun? Dengan kata lain, bekerja tidak selalu identik demi uang. Akan tetapi jika pekerjaan Anda hanya memberi beban hidup, kendati menghasilkan banyak uang, untuk apa dilanjutkan? Pekerjaan dan uang itu mungkin sudah tak bisa dinikmati lagi.

Di sisi lain, jika Anda merasa klop dengan pekerjaan, kendati uang yang dihasilkan tidak terlalu banyak, namun bisa memberi kelanggengan, sebaiknya Anda berpikir dua kali soal uang. Hal yang penting, penghasilan Anda memadai, dalam arti dapat memenuhi kebutuhan Anda dalam jangka panjang, bahkan sampai pensiun.

4. Untuk menjadi kaya harus berpendidikan tinggi

Mitos ini ada benarnya, tetapi tidak seratus persen. Realitasnya, kita melihat banyak orang tidak berpendidikan tinggi, tetapi memiliki aset sangat besar. Sebaliknya, tidak sedikit kalangan memiliki latar belakang tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang benar adalah bagaimana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.

5. Jika berhasil memiliki uang lebih banyak, maka akan lebih besar kesempatan menabung

Ini benar-benar pelecehan, sebab menabung bisa dilakukan pada jumlah berapa pun. Menabung tidak bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi lebih pada kemauan. Lebih dari itu, kebiasaan banyak orang, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula pengeluaran.

Selain kelima hal tersebut, masih banyak mitos lain berkaitan dengan uang dan kekayaan yang berkembang di masyarakat. Namun, terlepas dari apakah ada yang percaya dan terpengaruh atau tidak, intinya sebagian mitos tersebut tidak berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mengubah paradigma dan tak menjadikan mitos sebagai referensi mencari kekayaan.

Hal yang utama, tentukan kembali tujuan hidup Anda. Kalau Anda tidak punya tujuan dalam hidup, buat apa hidup? Tentu saja tujuan hidup setiap orang berbeda dan setiap orang berhak menentukan tujuan hidup masing-masing.

Untuk mencapai ujuan hidup tersebut, siapa pun selayaknya memiliki perencanaan. Lazimnya, salah satu bagian dari tujuan hidup adalah memiliki tujuan keuangan sekaligus membuat perencanaan. Dalam kaitan perencanaan keuangan inilah Anda mesti mampu menghindarkan diri dari mitos-mitos keuangan.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar