Masalah yang biasanya mengakibatkan timbal balik reksadana tidak sesuai dengan target adalah, “Tidak tahu tujuan,” ucap Taufik. Padahal tujuan inilah yang harus digarisbawahi jika ingin sukses berkecimpung di dunia reksadana.
Menurut Taufik, “kendaraan” yang dipakai nanti akan berbeda-beda disesuaikan dengan tujuan, antara investasi jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang. “Jangan sampai salah kendaraan. Kalau mau jangka pendek tapi malah memilih kendaraan jangka panjang, akibatnya dia akan melaju terlalu kencang sehingga terlalu berisiko,” urai Taufik.
Taufik lalu menambahkan, biasanya orang sekadar menyimpan uang di reksadana sebagai “uang lebih” atau alternatif investasi lain selain deposito. Terlebih di tahun 2005, ketika investasi reksadana mengalami pertumbuhannya yang pesat, sehingga banyak orang yang tergiur mengikutinya.
“Dengan tujuan yang pasti, reksadana akan lebih menguntungkan,” ucap Taufik. Saat itu banyak sekali investor reksadana yang terkena rugi, karena salah membeli program yang dianjurkan oleh credit officer dari bank. Produk yang dianjurkan adalah reksadana pendapatan tetap dengan iming-iming tingkat pengembalian lebih baik dari deposito dan dana awal tidak berkurang.
Ternyata, di tahun-tahun itu, ekonomi tidak stabil, BBM naik dan harga-harga ikur naik. Sehingga orang-orang panik sehingga lebih banyak orang menjual reksadana daripada membeli, sehingga harga akan turun.
Oleh sebab itu, di sinilah perlunya seorang nasabah menjadi cerdas, jangan hanya ikut-ikutan arus terbanyak dalam memilih produk investasi, tapi juga harus menghitung risikonya. Manajer investasi pun berperan penting dalam keadaan genting seperti ini, “Bila manajer investasi banyak menarik dana sebelum jatuh tempo, otomatis obligasi lebih banyak yang dibeli daripada dijual,” cetusnya.
Dan ingat, tentukan tujuan, sebab ini nantinya akan memperlihatkan jangka waktu mana yang harus dipilih. Apakah jangka pendek yang berkisar kurang dari tiga tahun, jangka menengah yang berlangsung antara 3-5 tahun, atau jangka panjang yaitu lebih dari lima tahun. Dari sini, dapat diketahui reksadana macam apa yang pas untuk dipilih dan risiko yang akan dihadapai.
Memilah Produk Reksadana
Pada dasarnya yang menjadi pembeda untuk produk-produk ini adalah bentuk portfolio yang menjadi wadah berinvestasi. Ini menjadikan reksadana terbagi menjadi empat produk: reksadana saham, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana pasar uang.
“Reksadana saham melakukan sebagian besar investasi pada saham-saham, sementara reksadana pendapatan tetap ditempatkan sebagian besar dalam obligasi dengan tingkat pertumbuhan yang tetap, baik swasta atau pemerintah,” jelas Taufik.
Sementara reksadana campuran dapat didefinisikan sebagai reksadana yang mempunyai investasi pada saham dan pendapatan tetap yang tak bisa dikategorikan ke dalam produk reksadana lainnya, “Atau campuran antara reksadana pasar uang dengan reksadana saham,” tambah Taufik. Terakhir, reksadana pasar uang menginvestasikan dana ke dalam portfolio berbentuk utang dengan jatuh tempo kurang dari setahun.
Jika sudah menentukan tujuan dan jangka waktu berinvestasi dengan reksadana, saatnya untuk memutuskan produk mana yang akan dipilih. Reksadana saham memiliki risiko lebih besar dibandingkan reksadana pendapatan tetap, tapi mempunyai keuntungan yang lebih besar karena jangka waktunya lebih lama.
Oleh karenanya, jangan sampai memilih reksadana saham, jika hanya ingin ber-reksadana dalam jangka pendek, sebab keuntungannya tak akan terasa dan justru bisa membuat rugi. Jangka pendek cocok untuk reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang, “Sementara untuk jangka menengah, produk yang dipilih antara reksadana campuran,” tambahnya.
Bila diurutkan berdasarkan besar kecil risikonya, maka reksadana pasar uang memiliki risiko terkecil, disusul oleh reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham. Demikian juga untuk keuntungannya, reksadana saham memegang urutan pertama, disusul oleh reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap, dan reksadana pasar uang.
Sebagai gambaran, bagaimana berinvestasi dengan reksadana, bila Anda ingin membeli mobil seharga 60 juta dalam jangka waktu 3 tahun dengan menyetor Rp 100 ribu per bulan.
“Untuk menyiapkan uang muka sebanyak Rp 12 juta, perencana keuangan akan menghitung berapa target return-nya dan angka per bulan yang harus dikeluarkan. Angka tadi akan diinvestasikan dalam reksadana pendapatan tetap, karena jangka waktunya pendek. Jadi bukan semerta-merta menghitung Rp 12 juta dibagi 36 bulan,” terang Taufik. Melihat ini, bukan tidak mungkin, lho, Anda bisa menyiapkan dana sekolah anak hingga ke luar negeri dengan investasi reksadana.
Nah, tugas selanjutnya, jika Anda ingin mulai mengikuti reksadana, sungguh mudah caranya. Jadilah nasabah yang cerdas dengan menentukan tujuan, lalu pilih jangka waktu, pilih manajer investasi dan perencana keuangan yang handal, dan tentukan produk reksadana yang akan mengelola uang Anda. “Jika ingin punya banyak uang, lakukan investasi dengan reksadana. Jangan pernah menunggu kaya dulu, baru berinvestasi,” tandas Taufik.
Memilih Manajer Investasi
Manajer investasi ibaratnya penjaga gawang dari sukses tidaknya investasi reksadana yang dilakoni, oleh karenanya jangan sampai salah pilih. Agar tak salah pilih, perhatikan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi oleh manajer investasi:
• Memiliki reputasi dan track record yang baik, serta integritas tinggi.
• Menerapkan prinsip keterbukaan dengan investornya, termasuk mengenai perkembangan dunia reksadana.
• Mampu memberikan konsultasi dan solusi investasi yang bisa diandalkan dan dipercaya.
Reksadana Terproteksi
Kasus salah beli produk reksadana yang sempat disinggung pada artikel di atas, tentunya tak akan dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Cara yang dipakai adalah dengan mengeluarkan reksadana terproteksi, “Tujuannya agar nasabah tidak panik sehingga menjual reksadananya,” kata Taufik.
Penawaran dari reksadana terproteksi adalah perlindungan terhadap dana awal yang disetorkan oleh investor dalam jangka waktu tertentu. “Dana awal yang disetorkan tidak akan berkurang, tapi nasabah harus menyimpan dana tadi selama sekian tahun,” papar Taufik. Dengan cara ini, manajer investasi tak akan menjual obligasi, walaupun kondisi ekonomi sedang carut marut sekalipun, karena dia harus memproteksi dana yang disetor investor.
Rambu-Rambu Reksadana
Bagaimana mengetahui reksadana yang baik dan menguntungkan? Pertimbangkan saja aspek-aspek berikut ini:
1. Keuntungan yang dimaksud harus optimal, dalam arti sesuai dengan risiko yang dihadapi
2. Evaluasilah portfolio. Apakah ia mempunyai likuiditas yang relatif tinggi. Misalnya untuk portfolio obligasi, dilihat dari ratingnya, untuk saham dilihat termasuk LQ45 atau tidak.
3. Cara lain dalam memilih manajer investasi adalah dengan melihat dana kelolaan pada reksadana yang dipilih. Ini menunjukkan seberapa besar kepercayaan nasabah terhadap reksadana itu. Ingat, butuh waktu untuk mencapai keuntungan yang maksimal, jadi jangan terkecoh dengan besarnya dana kelolaan, padahal waktunya belumlah lama (baru sebentar).
4. Hitung biaya masuk, biaya manajemen, biaya switching, dan biaya keluar.
U
Dalam kaitan dengan tujuan keuangan, para single sebaiknya memastikan terlebih dahulu apakah akan menikah dan kemudian memiliki anak, atau menikah namun tidak berencana memiliki keturunan, atau malah tetap melajang. Tidak ada yang salah dengan pilihan seperti ini. Setiap orang memiliki hak asasi, kendati belum tentu dianggap lazim di masyarakat kebanyakan.
dan sandang), dan ada juga yang harus disisihkan untuk memenuhi kebutuhan papan. Belakangan aspek ini juga diperluas menjadi alat transportasi. Pertanyaannya, bagaimana caranya memenuhi kebutuhan akan rumah dan kendaraan bagi para single?
Kongkretnya, jika Anda bermaksud memiliki rumah dam kendaraan, sebenarnya Anda bisa melakukannya dengan pembayaran angsuran. Dengan cara seperti itu Anda akan memiliki rumah dan kendaraan lebih cepat. Tentu saja tatkala Anda menikah, Anda mesti menceritakan keadaan tersebut kepada pasangan Anda. Jika pasangan Anda bekerja, ia bisa membantu untuk turut membayar angsurannya.
Mitos ini salah kaprah, karena pada dasarnya uang selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang.
2. Jika memiliki uang, orang dapat memenuhi semua keinginannya
Mitos ini ada benarnya, tetapi tidak seratus persen. Realitasnya, kita melihat banyak orang tidak berpendidikan tinggi, tetapi memiliki aset sangat besar. Sebaliknya, tidak sedikit kalangan memiliki latar belakang tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang benar adalah bagaimana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.